Berbicara tampa suara

C360_2017-11-10-11-54-46-093

Ada pintu lain yang bersedia engkau ketuk, untuk engkau masuki ruangannya. Ketika satu pintu yang engkau temui, tertutup. Ada jalan lain yang membentang untukmu melangkahkan kaki, ketika satu jalan berujung buntu. Ada orang-orang yang menyambutmu sumringah, ketika engkau mau membersamainya. Ada naungan yang tidak pernah tidak, melingkupimu di dalam kehidupan.

Melangkahlah, dan lanjutkan, karena engkau masih dalam perjalanan. Kalau lelah, boleh nebeng teman. Itu pun kalau temannya mau, yaa. Dengan nebeng, engkau tinggal duduk manis bersama senyuman. Trusnyampe dechdi tujuan, tanpa perlu berlelah-lelah. Ini tentu menyenangkan, bukan?

Ya, engkau tidak perlu lagi kelelahan melangkah. Tidak perlu kram kaki, atau badan jadi berkeringat, lagi. Tidak perlu. Engkau hanya perlu masih tersenyum, sambil menyapa temanmu yang menjadi pengendara. Bersedia mengingatkannya untuk hati-hati. Supaya kalian sama-sama selamat sampai tujuan.

Sepanjang perjalanan, tetap hayati kebersamaan, dengan sebaik-baiknya. Ingat waktu, perhatikan sekitar. Selalulah mendengar, melihat dan merasakan. Jadikan siapapun, apapun, sebagai ingatan. Ingatan untuk bersyukur, bersabar, dan kemudian menebarkan senyuman.

Tersenyumlah lebih indah dalam kebersamaan, untuk mempererat keakraban. Sebab, engkau merasakan bagaimana lelahnya berjalan sendirian, bukan? Engkau merasakan keringat yang mengalir di sekujur badan saat berpanas-panasan, bukan? Engkau juga sempat kehujanan di jalan pulang, karena kelupaan tidak bawa payung saat berangkat tadi, bukan? Atau karena engkau menyengaja, tidak bawa payung dengan alasan mau hujan-hujanan dan berharap hujan turun, bukan? Engkau terkadang aneh, memang.

Pada suatu hari,

Engkau juga tidak nyaman, saat harus masih melangkah, meski menerjang banjir kecil selutut, di tengah kelam, bukan? Ai! Pengalaman ini menjadi yang paling menyeramkan dalam waktu terakhir? Engkau ngeri, mengingatinya yaa? Makanya, segera tinggalkan dalam catatan, supaya tidak terbayang-bayang dalam ingatan. Bila pun teringat saat membacanya lagi, bisa engkau senyumi karena semua sudah berlalu. Tentu menyenangkan, bukan?

“Iya, menjalaninya, ku biasa saja. Saat teringat-ingat, menjadi bergidik. Apalagi jalannya di tengah kelam, malam dan kebanjiran. Iya, aku kehujanan di perjalanan dan tidak bisa langsung pulang. Karena hujan datang bersama petir-petirnya. Ditambah lagi dengan kilat yang menyambar-nyambar, menerangi kegelapan alam. Suasananya, membuatku tidak sanggup melanjutkan langkah dalam perjalanan menuju pulang,” bisikmu.

Benar, ku mengerti bagaimana keadaan cuaca sore itu. Sore menjelang senja. Senja mendekati malam. Malam yang kelam, dan hujan. Engkau duduk manis menunggu hujan reda, karena tidak bawa payung sebelumnya. Namun bukannya mereda, hujan malah melebat. Engkau pikir, hujan akan reda beberapa puluh menit ke depan. Ternyata, hujannya semakin deras, mengakibatkan banjir di jalan. Banjir yang lumayan tinggi airnya.

Tapi uniknya, ku lihat, engkau senang sekali memperhatikan gerakan air yang bergelombang-gelombang. Saat kendaraan melintasi jalan yang sudah menjadi sungai dadakan. Engkau bahagia, bukan? Iya, engkau bisa saja berbahagia dengan pemandangan demikian. Karena bagimu, menjadi pengalaman yang berkesan. Karena pertama kalinya, engkau alami. Terjebak hujan, di depan sebuah konter.

Engkau duduk di konter seberangnya. Sedangkan di depan sana, di konter tetangga, ada yang menarik perhatianmu. Engkau pun sempat memperhatikan pemandangan yang bagimu juga berkesan.

Seseorang memperhatikanmu, atau engkau yang memperhatikannya? Engkau, sesekali curi-curi pandang? Wahai, aku tahu. Tolong kurang-kurangi tebar-tebar pesona, dong,kawan. Sebaiknya engkau mengenali lingkungan. Engkau sedang berada di mana?

“Okee, hehe,” bersemu wajahmu menatapku. Aku tidak menyalahkanmu, namun mengingatkan saja, dear. Jangan ngambek, yaach. Tersenyumlah. Karena engkau cantik kalau senyum. Aku suka.

***

Pada hari berbeda,

Sore mulai menjelang. Akhirnya, kami bertemu lagi. Pertemuan dua sahabat yang saling mendukung, senang bersama, rukun sejak berkenalan. Sehingga bahagia saja, ku membersamainya ke mana-mana. Apakah ia mengajakku ke tempat sunyi nan sepi, atau keramaian yang bagiku, ‘engga banget‘. Karena duniaku bukan di sana. Namun, bujuk rayunya sedikit meruntuhkan kokohnya benteng keteguhanku, juga. Akhirnyaaa, ia bisa menyeret-nyeretku main-main ke  tempat-tempat ramai, xixixii. Seperti?

Ya, pada suatu hari yang kelam, malam, bersama teman-teman kami yang lain, memang. Ketika itu kami berangkat bersama-sama. Jadi, engga oke juga kan yaa, kalau akhirnya ku pulang sendiri, balik arah, jalan kaki, kan udah malam? Jadi, ku ikut ajakan teman, ku bersamai mereka dengan senyuman. Bersama-sama, kami menghayati waktu yang tersedia untuk jalan-jalan.

Karena berhasil menggoda, mereka senang alang kepalang, tersenyum riang tak berkesudahan. Aku juga, begitu. Demi kebersamaan, ku bahagia-bahagia adja. Kami pun pulang beberapa jam kemudian. Setelah terpenuhi keinginan untuk cuci-cuci mata dengan benderangnya suguhan di keramaian. Karena keramaian yang berisik, bising, makanya, aku dan teman-teman pun harus bicara keras dengan volume suara yang lebih dari biasanya. Supaya masih bisa saling dengar mendengarkan. Kalau tidak begitu, kami hanya diam-diaman, dan melangkahkan kaki-kaki di antara orang-orang yang juga menikmati waktu pada saat sama. Eits, bukan di mana-mana, hanya ke mall saja. Yang pada waktu itu mulai beroperasi, karena masih baru. Jadi, biar rame-ramein, ceritanya. 😀

Lain waktu, teman mengajakku ke lokasi bernuansa alam. Akhirnya, sudah duduk manislah kami di taman yang temaram, dengan lampu-lampu taman sebagai penerangan. Sehingga, suasananya lumayan terang. Meski tidak terang-terang amat. Tapi, cukuplah, untuk bisa saling berpandangan, memperhatikan ekspresi dalam jeda percakapan.

Lain kesempatan, kami hanya menghabiskan waktu di atap kosan, memperhati rembulan atau bebintang, di langit malam.

Semua menjadi ingatan yang tidak akan pernah tertinggalkan, terlupakan, dan ku mau selama-ingatan masih ada. Nah, menyadari kondisi ingatan, ku merangkai lagi ingatan menjadi barisan kalimat tentang senyuman. Senyuman yang kami pertukarkan dalam kebersamaan. Senyuman selama menghayati masa-masa yang sangat berkesan.

Kali ini, adalah senyuman tentang kondisi di taman. Taman yang sudah kami kunjungi beberapa kali. Taman di tengah kota, yang nuansanya temaram. Taman, yang mengajak kami mendatanginya lagi, untuk sekadar menghirup udara malamnya. Taman yang menyediakan beraneka permainan, untuk anak-anak, tapi. Sedangkan orang-orang tua dan remaja, boleh duduk-duduk saja, jalan-jalan di sekitar taman, atau menikmati cemilan ringan sambil memperhatikan aktivitas pengunjung.

Tidak berbeda dengan para pengunjung lainnya, aku dan seorang teman juga. Kami memilih duduk-duduk di bangku, daripada selonjoran di rerumputan. Meski awalnya, memang duduk-duduk di mana saja. Sebelum ada kebagian bangku kosong. Karena, jumlah pengunjung melebihi bangku yang tersedia, akibatnya yaa, antri gitu, kalau mau duduk-duduk.

Sejauh ini, yang paling kami tunggu-tunggu dan membuat kami datang lagi ke taman tersebut, adalah momen ngelirik bangku-bangku kosong. Selanjutna, segera kami dekati. Kemudian tersenyum ceria, karena sukses ‘rasanya’. Setelah berusaha mencuri-curi pandang pada kursi yang kami taksir.

Itu pun dengan kegesitan, agar bisa menempatinya. Setelah orang sebelumnya beranjak. Hahaa. 😀 Temanku yang lebih cekatan, sedangkan aku memilih bersantai saja, sambil melangkah menujunya yang sudah tersenyum menawan. Karena ia sampai duluan di bangku. Aih! Apa kurang kerjaan yaa, kami? Iya juga sich, lagian, ini adalah momen seru-seruan aja, sekaligus mendeteksi kepedulian pada lingkungan.

Ini pun kalau awalnya, tidak ada satupun bangku yang kosong di taman tersebut. Maka, kami memilih jalan-jalan dulu. Sambil berusaha menemukan satuuuuu aja, bangku kosong. Berharap sangat, sebab kami mau lebih menikmati pemandangan sambil  duduk bercengkerama.

Tidak menunggu lama, ada saja bangku kosong. Ada saja orang duduk yang berdiri, lalu berjalan, dan menjauhi bangku.

***

Iyap, kami memang tidak menghadap ke arah sama. Agar nuansanya berbeda saja. Agar sesekali ku bisa melirik ke depan, arah sebaliknya dan sesekali padanya. Temanku pun sama. Ia menikmati alam dengan caranya. Di sela-sela bertukar suara, sesekali temanku menunjuk rembulan yang sedang berjuang mengalahkan gemawan. Saat rembulan mulai kelihatan, ia berteriak gembira, “Bunnn, lihatlah, bulannya muncul lagi.”

Aku segera menoleh, dan tersenyum pada rembulan. Sedangkan padanya, ku bilang, “Iyaa, cantik, yaa, Tyaa.”

Saat kami sedang duduk-duduk di bangku. Tetiba temanku bersuara, karena ia melihat sekumpulan orang sedang melangkah. Mereka banyakan, lebih dari sepuluh orang. Akibatnya menarik perhatian. Karena posisi duduknya menghadap mereka. Sedangkan aku, membelakangi.

Tanpa kami kendalikan, mereka terus melangkah, dan ternyata mendekati kami. Semakin lama, semakin dekat. Mereka tidak riuh, tidak juga berisik. Walaupun banyakan. Meskipun bercengkerama.

Awalnya, kami tidak menyangka, mereka dan kami akan sedemikian dekat. Iya? Yap, karena heningnya, mereka sudah berada di sekitar kami. Ada yang di sisi kiri, kanan, bahkan sempat juga melangkah di depan kami. Merasa dikelilingi oleh kesejukkan, tetiba temanku berinisiatif menulis di layar hapenya, “Bun, kita kok kayak dikelilingi gini, yaa…” 

Iya, aku pun terkesima. Bersama-sama, mereka di dekat kami. Mereka berbicara, saling berkomunikasi. Namun, tidak mengganggu kenyamanan dan kedamaian kami. Mereka menghadirkan ketenteraman, menyelipkan deru di relung hatiku, seketika. Aku tidak bertanya-tanya, setelah menyadari. Ternyata, kami dipertemukan di taman tersebut, untuk mengingatkan diri ini. Supaya memanfaatkan segala yang ada pada diri, dengan sebaik-baiknya. seperti kemampuan berbicara, mendengarkan, dan menyimak. Apa sebab?

Mereka adalah saudara-saudara kita yang berbicara dengan ekspresi dan gerakan tubuh, gerakan tangan, dan juga tatapan mata. Menyaksikan mereka, kami hanya bisa berpandangan. Adanya mereka di sisi, kami yang sebelumnya juga asyik bercengkerama dan saling menukar suara, menjadi hening juga.

Ya, detik ke menit berikutnya, kami ikut menikmati percakapan mereka yang saling bercanda. Sungguh, sebuah kebahagiaan ku rasa, dengan kehadiran mereka. Mereka ada, bukan begitu saja, bukan? Tentu ada yang menggerakkan, hingga mereka memilih melangkah mendekati kami. Walaupun di sana, di ujung taman, ada juga bangku-bangku lagi. Tapi, mengapa harus mendekati kami?

Sesekali, ku memperhatikan gerak tangan dan ekspresi wajah saat mereka berbicara. Walau tidak nimbrung, namun hanya menyimak. Percakapan tanpa suara, namun mereka juga sedang bercengkerama. Engkau tahu, teman, siapakah mereka?

Iya, mereka ada para hamba-Nya yang memperoleh nikmat untuk tidak berbicara dengan suara. Dengan demikian, lisannya senantiasa terjaga, dan tidak ada yang tersakiti, oleh bicaranya melalui suara. Semoga, kita-kita juga yaa. Berbicara yang baik-baik saja. Berusaha menjaga ucapan dan perkataan. Karena mendapatkan kemampuan berbicara dengan mudah dan bersuara indah, adalah titipan dari-Nya yang mesti kita syukuri.

Kami juga sempat bertukar suara, berbicara dan bercakap dengan salah seorang dari teman-teman tersebut, yang menjadi pemandu dalam perjalanan. Kami bahagia, bisa  bertemu mereka. Sehingga kunjungan ke taman, menjadi semakin berkesan, rasanya. Esok, lusa, atau kapan-kapan, kami masih akan berkunjung ke sana, untuk menikmati senja hingga malam benar-benar menggulita, selama beberapa jam saja. Nyari ide, nyari-nyari yang belum bertemu… atau sekadar melepas penat dari aktivitas seharian. Semoga kami bisa berjumpa lagi, lalu berbicara, meski tanpa suara.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s